Selasa, 15 November 2011

Ikhlas Atau Rela?

Bapak, ibu, kakak dan adek2 yang semoga selalu dirahmati Alloh Ta'ala. Gimana? Masih semangat bersedekah nya?
Masih semangat menginfaqkan sebagian harta yg kita cintai utk org lain yg membutuhkan?
Sama2 ya kita sudah jumpai di buku2, di seminar2, di socialmedia maupun di televisi banyak sekali motivator2 dan ustadz2 yg terus memasyarakatkan sedekah dan mensedekahkan masyarakat. Alhamdulillah.
Btw, pernah ngga denger atau baca ada orang yg bilang kira2 seperti ini, "Sedekah kok sedikit. Sedekah itu yang banyak. Sedekah itu ngga harus ikhlas. Mending sedekah yang banyak tapi ngga ikhlas, daripada sedekah ikhlas tapi cuma sedikit." Pernah denger yg begitu? Setuju apa engga? Pikir2 dulu ya? Pasti semua lebih setuju sedekah banyak dan ikhlas. Ya dong. Kalo itu sih semua sepakat. Tapi, setujukah bahwa sedekah-banyak-tapi-ngga-ikhlas itu lebih baik drpd sedekah-sedikit-tapi-ikhlas?

Aku jelas ngga setuju. Kok bisa, ngga ikhlas dibilang lebih baik daripada yg ikhlas?
Yuk kita baca Firman Alloh di Surat Al Mulk, ayat 2.

Kutulis dalam hurup latin sekalian arti per katanya.
Alladzii kholaqol (Yang menciptakan) mauta wal hayaata (hidup dan mati) liyabluwakum (menguji) ayyukum (siapa di antara kamu) ahsanu 'amalaa (yang lebih baik amalnya). Wa huwal (dan Dialah) azizul (Yang Maha Perkasa) ghofuur (Maha Pengampun).

Tuh.
Kita diuji Allah Ta'ala supaya tampak, siapa di antara kita yang ahsanu 'amalaa. Yang lebih baik amalnya (ada jg yg mengartikan yang paling baik amalnya). Dan syarat diterimanya amal ibadah kita adalah ikhlas dan ittiba'. Firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Sesungguhnya Sesembahan kalian adalah sesembahan yang esa, barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Robbnya maka hendaklah ia beramal ibadah dengan amalan yang sholeh dan tidak menyekutukan Robbnya dalam amal ibadahnya dengan suatu apapun” (QS. Al Kahfi: 110).

Berkata Ibnu Katsir Asy Syafi'i dalam tafsirnya “Inilah dua rukun diterimanya ibadah, yaitu harus ikhlas karena Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam."
Nah kan, utamakan ikhlas nya. Bukan menomor sekian kan. Karena yang dinilai emang keikhlasannya. Bukan dinilai dari banyak atau sedikitnya.

Lalu bagaimana dengan jargon2 di atas tadi. Berarti salah dong? Padahal udah terlanjur populer dimana2 bahwa "sedekah banyak ngga ikhlas lebih baik daripada ikhlas bersedekah tapi cuma sedikit". Kalo ikhlas kepada Alloh Ta'ala dinomor duakan dalam beribadah tentu aja ngga tepat. Tapi sepertinya, ada distorsi makna (memakai kata beberapa temen diskusi di Forum Masjid Sholahudin) antara kata 'ikhlas' di atas, dengan kata 'rela'.

Perasaan ringan ketika kita mengeluarkan uang untuk disedekahkan, ngga berat hati, ngga ngedumel, itu sebenarnya rela. Bukan ikhlas. Itu rela. Sama seperti kita (maap) buang air, ringan, enteng, ga mengharapkan kembali, itu namanya rela.

Kalo diterjemahkan ke dalam kata rela, pasti lebih tepat:
Sedekah banyak -walaupun hati masih ngga rela- lebih baik daripada rela bersedekah tapi cuma sedikit.
Jadi, setiap aku menyebut kata ikhlas dalam tulisan ini, itu berarti ikhlas karena Alloh Azza wa Jalla. Bukan perasaan ringan ketika mengeluarkan uang untuk disedekahkan. Tolong dibedakan bener soal ini.

Yuk aku kasih contoh barangkali biar lebih mudah.

A. Rela tapi ngga ikhlas
Sebutlah tokoh fiktif bernama Mr. John, seorang pengusaha kaya raya. Dia sedekahnya sangat2 banyak. 2 Milyar dia sumbangkan kepada fakir miskin. Rela ngga? Ya rela, dengan senang hati dia rogoh kocek segitu, karena ada tujuan yang mau ia capai, yaitu populer di kalangan masyarakat sebagai orang baik, dermawan, koncone wong cilik, masuk tv. Tapi guys, you know what, itu semua karena dalam rangka kampanye pencalonannya sebagai gubernur mendatang. Semua adalah bagian dari rencana yg udah disusun oleh tim suksesnya.

Apakah yang begini baik? Iya, baik untuk masyarakat banyak, fakir miskin yang kebagian rejeki. Tapi untuk dirinya sendiri engga, karena Mr. John ternyata mengakui bahwa dia menyumbang ngga ikhlas, jelas-jelas bukan dalam rangka ibadah kepada Alloh.

Apa yang dilakukan Mr John beda dgn arti ikhlas menurut An Nawawi Asy Syafi’i rohimahullah yg menukil dalam kitabnya At Tibyan perkataan ustadz Abu Qosim Al Qusairiy rohimahullah, beliau mengatakan, “Ikhlas adalah engkau mentauhidkan/menunggalkan niatmu dalam keta’atan kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala yaitu engkau berniat mendekatkan diri kepada Allah dengan amal ketaatanmu tanpa mengharapkan dari mahluk suatu apapun dari hal tersebut berupa pujian dari manusia dan lain sebagainya”.

B. Rela dan ikhlas
Sebutlah tokoh fiktif bernama Pak Yus seorang sopir angkot. Ketika siang2 menjelang sholat jumat, Pak Yus pulang, mandi dan memakai baju koko berikut kopiahnya. Di masjid kampungnya yang masih dalam proses pembangunan, di depan kotak amal, Pak Yus merogoh kantong di saku bajunya. Dia udah siapin tuh dari rumah, lalu dia masukin uang Rp. 10.000,- ke dalam kotak amal. Rela ngga? Iya rela, cuma sepuluh rebu ini masa berat. Ikhlas ngga? Ikhlaaas ikhlas. Pak Yus hanya berharap ridho Alloh, hanya berharap ridho Alloh, bukan murkaNya, bukan murkaNya. Bener2 ikhlas.

Apakah yang begini baik? Iyaaa baik, insya Alloh. Tapi kan cuma sedikit gitu squ sedekahnya.
Ayo lah, jangan menyepelekan sedekah yang sedikit. Sedekah banyak tidak selalu lebih baik dari yg sedekah sedikit. Karena yang dinilai emang ikhlas-nya bukan besar kecilnya. Apa udah lupa dengan hadits Rasulullah SAW, agar kita bersedekah walaupun hanya dengan separoh biji kurma? [1]

"Nyumbang pembangunan masjid kok sepuluh rebu. Buat beli paku doang itu mah." ejek orang lain yang nyumbang sepuluh sak semen. Please, jangan pernah meremehkan orang lain yang sedekahnya hanya sedikit. Itu berarti kita yg sedekahnya banyak jadi ujub, bangga, dan sombong, merasa lebih dari orang lain.

C. Ngga rela (berat) tapi ikhlas
Sebutlah tokoh fiktif bernama Mas Deny pedagang pentol (bakso tusuk lidi) keliling menggunakan sepeda kayuh. Setelah ngumpul2in, nabung selama dua tahun, akhirnya dia punya uang tujuh juta, yang rencananya mau dipakai buat beli sepeda motor second merk Honda Supra. Yes, akhirnya dia akan punya sepeda motor sendiri. Jualan pentol ngga cape harus mengayuh sepeda, tinggal brumm brumm. Tapi tiba2 mertuanya sakit keras, dan dia harus dioperasi segera. Satu2nya sumber keuangan yang bisa dimintai tolong ya hanya Mas Deny, karena adik2 yang lain masih sekolah. Dan karena satu2nya, otomatis, ngga bisa tidak, terpaksa tabungannya tujuh juta tadi dipakainya untuk membiayai operasi.

Berat ya? Ya iiiyalah beraaat sebenarnya, karena dua tahun dia ngumpulin uang segitu. Sedikit demi sedikit. Dan sekarang hilang sudah mimpinya memiliki sepeda motor. Tapi ikhlas kah Mas Deny? Ternyata dia ikhlas uang itu dipakai. Dia ikhlas menginfaqkan uangnya, hanya berharap ridho Alloh saja.

Apakah yang begini baik? Iyaaa baik, insya Alloh, karena sedekah yang terbaik itu ketika kita dalam keadaan pelit, masih pengen kaya dan takut miskin [2]. Selain itu, Mas Deny juga telah mensedekahkan sebagian dari harta yang dicintainya, seperti Firman Alloh, dalam Surat Al Baqarah ayat 177 yang artinya:

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat, dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS. 2:177)

Gimana, gimana gimana.
Udah jelas ya bedanya rela dan ikhlas.
Apakah kita pengen jadi Mr. John yang rela bersedekah buuuwaannyaaakkkks tapi tidak bernilai ibadah?
Apakah kita pengen jadi Pak Yus yang ikhlas dan rela bersedekah tapi 'menurut kita sedikit'?
Apakah kita pengen jadi Mas Deny yang bersedekah ikhlas dengan sebagian harta yang dicintainya?

Belajar ilmu ikhlas ini emang berat. Sama juga seperti belajar syukur dan sabar. Termasuk nulis soal ini pun berat banget. Nulis sambil istighfar berulang kali. Aku jg belajar, seperti halnya semua orang yang terus belajar utk beramal dgn ikhlas. Nah sambil belajar ikhlas, teruslah bersedekah. Luruskan niat di dalam hati, bahwa ini dalam rangka mengharapkan ridhoMu, ya Robb.

Dan tidak hanya soal sedekah. Tapi juga soal ibadah2 yang lain. Luruskan niat. Luruskan niat, ikhlas beribadah hanya untuk Alloh Azza wa Jalla, karena kita memang diciptakan untuk itu.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan “Niat adalah maksud yang diinginkan dari amal”. Ditempat yang lain beliau rohimahullah mengatakan, “Niat dalam seluruh ibadah tempatnya di hati bukan di lisan dan hal ini telah disepakati para ‘ulama kaum muslimin. Seandainya ada seorang yang melafadzkan niat dan hal itu berbeda dengan niat yang ada dalam hatinya maka yang menjadi tolak ukur berpahala atau tidaknya amal adalah niat yang ada dalam hatinya bukan yang ada di lisannya”.

Kalo ada salah satu motivator terkenal bilang "ikhlas itu omongan pemula", duh, duh duh. Ikhlas yang syarat nomer satu diterimanya ibadah kok dibilang pemula. Ya udah terserah dia blg gitu. Anggep lah kita emang pemula. Ga ada yg salah juga dengan pemula. Yang jelas kita ga bisa nilai keikhlasan orang lain, karena ngga keliatan. Tempatnya di hati. Lha keikhlasan kita aja masih tanda tanya, gimana menilai orang lain?

Belajar ikhlas itu untuk diri kita sendiri. Instrospeksi selalu untuk jadi lebih baik. Dzun Nun rohimahullah mengatakan, “Tanda ikhlas ada tiga, tidak ada bedanya bagi seseorang antara ia dipuji atau dicela seseorang atas amalnya, tidak menghiraukan pandangan manusia atas amalnya dan mengharap pahala dari amal yang ia kerjakan di akhirat”.

Sedangkan penilaiannya ada di tangan Alloh. Kita ngga akan pernah tau apakah amalan kita selama ini dinilai ikhlas atau engga, karena pengumuman kelulusan kita baru diumumkan kelak di padang mahsyar. Akan tetapi, guys, tetaplah selalu berkhusnudzon kepada Alloh Azza wa Jalla. Tetap selalu berdoa dan berharap, agar Alloh ridho kepada semua amal ibadah kita. Tetap berharap agar kita termasuk hambaNya yang ahsanu 'amalaa.

Robbanaa taqobbal minna innaka antas samii'ul aliim.

======
[1] Dari 'Adi bin Hatim berkata, \"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: \"Tidaklah salah seorang di antara kalian melainkan akan diajak bicara oleh tuhannya dengan tanpa juru penerjemah, saat ia melihat sebelah kanannya maka ia tidak melihat selain amalnya yang pernah dilakukan, saat ia melihat sebelah kirinya maka ia tidak melihat kecuali apa yang telah ia lakukan sebelumnya, dan saat ia lihat depannya maka melihat selain neraka di depan mukanya. Maka jagalah kalian dari neraka walau hanya dengan separoh biji kurma.\" Al A'masy mengatakan, \"Dan telah menceritakan kepadaku 'Amru bin Murrah dari Khaitsamah semisalnya, dan ia tambahi dengan redaksi, 'Walaupun hanya dengan kata-kata yang baik'.\" (HR Bukhari)

[2] Dari Abu Hurairah ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya, \"Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimanakah yang paling besar pahalanya?\" maka beliau pun menjawab: \"Yaitu kamu bersedekah saat sehat, kikir, takut miskin dan kamu berangan-angan untuk menjadi hartawan yang kaya raya. Dan janganlah kamu lalai hingga nyawamu sampai di tenggorokan dan barulah kamu bagi-bagikan sedekahmu, ini untuk si Fulan dan ini untuk Fulan. Dan ingatlah, bahwa harta itu memang untuk si Fulan.\" (HR Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar