Selasa, 02 April 2013

Cerita Kevin Nemu Duit

duit lecek
Suatu malam, aku duduk berdua ama Kevin sambil ngopi.
Aku sengaja menyediakan waktu baginya untuk bercerita, menatap matanya dgn 100% fokus hanya kepadanya.
"Pa, kuceritain ya.
Set,
Aku kan diajak Mbah, tapi ngga boleh Mama." katanya dengan nyerocos.
Hihihi, bentar2, itu kok ada "set" nya segala sih, K.
Rupanya dia mau cerita tentang kejadian waktu masih di Jombang.
"Ya udah." dia meneruskan, "Trus di depan mushola itu ada apa, kok kaya kertas, atau kaya duit. Trus kuambil.."
Kupotong, "Ternyata telek?" tebakku ngaco. Telek ini bahasa jawa, artinya kotoran.

Yeeeee...
"Bukan!" jawabnya, "Ternyata duit, Pa! Sepuluh ribu! Lima ribuan dua! Horeee!!"
Tangannya diangkat dua2nya ke atas. Mukanya girang, seakan2 menang apaan gitu.
Sambil nyruput kopi, aku tanyain, "Trus duitnya kamu apain?"
"Kusodaqohin."
"Separoh?"
"Ngga. Semua."

Hmppff. Gelas kopi kutaroh meja.
Barang temuan emang ngga berhak dimiliki oleh si penemu, karena barang tersebut ada pemiliknya. Kecuali setelah diumumkan dan menunggu selama setahun (1), baru deh uang tersebut boleh dimiliki oleh yg nemu. Tapi kalo barangnya dianggep remeh (2), maka tidak mengapa untuk dimiliki oleh si penemu (3).
Dan Kevin berinisiatif untuk mensedekahkan seluruhnya.
Dulu juga pernah nemu uang sepuluh ribu di Giant, juga disedekahkan seluruhnya.
Barakallahu fiiha.

Ayah Bunda rahimakumullah. 
Sering kah duduk mendengarkan anak2 bercerita ini itu pating pecotot blepotan?
Atau Ayah dan Bunda terlalu sibuk?

Kadang anak2 ngga ngerti ya bapak ibunya sedang apa. Ya namanya juga anak2. Ketika mereka tiba2 ingin bercerita, eh si bapak ibunya sedang sibuk ngerjain hal lain.
"Bunda bunda, masa tadi.."
"Ganti baju dulu sanaaa, hayo pulang sekolah langsung apa?" jerit Bunda nya.

"Ayah ayah, tadi aku..."
"Ntar, Ayah sibuk." kata si Ayah yang asyik BBM-an dengan temen2nya tanpa melihat si anak.

Dan konon, sikap kita itu lah yang kemudian ditiru balik oleh anak2.
"Kenapa ya mbakyu, kok aku sampe cerewet ngomelin ngga digubris ama anakku."
"Sama lho Jeung, anakku juga gitu, kaya masuk telinga kanan keluar telinga kiri."

Salah satu sebab kenapa anak2 ngga mendengarkan apa kata orangtuanya adalah -konon- karena si orangtua juga ngga pernah mendengarkan apa kata mereka. Nah lho. 
Maka, sebagaimana cerita di atas, yuk sediakan lah selalu waktu untuk mendengarkan anak2 bercerita. Kita mungkin akan banyak menemukan cerita2 menarik dari mereka. 
Dengan menghargai mereka maka kita juga akan dihargai.
Mungkin dari berbagi cerita itulah, kita bisa menanggapi dengan memberi banyak nasehat dan ilmu agama kepada anak2 untuk menambah wawasan mereka.
Semoga ada manfaatnya.

Catatan: ______________

1] Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Ingatlah jenis bungkusan dan talinya lalu umumkan selama setahun. Jika datang pemiliknya (maka berikan kepadanya), jika tidak datang maka terserah kepadamu.” [HR Bukhari dan Muslim] 

2] Syaikh Abdul Adzim Badawi Hafidzahullah menjelaskan, “Barangsiapa yang mendapat makanan di jalan, maka ia boleh memakannya, dan jika mendapatkan sesuatu yang remeh/kurang bernilai, yang tidak berkaitan erat dengan jiwa orang lain, maka boleh memunggutnya dan memilikinya”. [Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil Aziz] 

3] Dari muslimafiyah.com, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melewati sebuah kurma di tengah jalan, kemudian beliau berkata, ‘Seandainya saya tidak khawatir ini adalah sedekah, maka saya akan memakannya’.” [Muttafaqun ‘alaih, HR. Bukhari, Muslim dan Abu Daud]

Jadi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan memakan kurma tersebut jika bukan merupakan kurma sedekah, karena Nabi dan keluarganya tidak boleh memakan harta sedekah dan sebuah kurma saat itu dianggap barang yang remeh/kurang bernilai.

2 komentar:

  1. That's cool. Jd pingin malu krn msh sering nanggepin cerita anak sambil lalu. Huhu maapkan aku anak2ku, I promise I'll be better!

    BalasHapus
    Balasan
    1. @kamila: cemungud kamilaaaa! kok blog nya cuma satu postingan doang? pdhl tulisanmu bagus

      Hapus