Senin, 30 September 2013

Haji Kesasar

yang mana yang Mama K?
"Mbah Kalimah ilang!!" kata seseorang yg langsung bikin heboh kami semua.
Entah ke berapa kali Mbah Kalimah hilang dari rombongan kami.
Beliau ini udah sangat sepuh. Nenek2 yang sudah sangat lanjut usia. Badannya kecil dan agak bungkuk ke depan, tapi masih kuat fisiknya dan segar wajahnya. Mbah Kalimah sudah pernah naik haji, dan beliau sangat percaya diri bahwa Mekkah dan Madinah sekarang sama aja dengan Mekkah Madinah di jaman hajian beliau jaman dulu (sekitar tahun tujuh puluhan atau delapan puluhan gitu).

Bapak ibu adek mas mbak rahimakumullah.
Jika nanti -Insyaa Allah- kita diberi kesempatan berhaji, maka jangan kaget ketika dalam rombongan kita nanti akan ada kakek atau nenek lanjut usia yang berangkat seorang diri. Wew, itu anak2nya pada kemana kok ga nemenin? Ya masalahnya ngga semudah itu. Ongkos naik haji kan mahal, ga semua orang diberi kemampuan punya uang cukup untuk berangkat. Mungkin adanya harta ya cuma untuk berangkat satu orang saja, karena itu lah si nenek atau si kakek lanjut usia ini berangkat sendirian. Dan bagian terpentingnya adalah, beliau-beliau yang udah sepuh ini hanya punya kita, temen2nya satu rombongan sebagai keluarga! Jadi kalo ada satu orang dalam rombongan yang hilang, palagi sudah tua, woooow langsung deh heboh.


"Mbah Kalimah ilang lagi!!" kata yang lain.
"Mbah Mut ilang!"
"Mbah Romlah ilang!"
Jadi terbiasa, haha. Terbiasa panik, maksudnya.

"Udah besok juga ketemu." kata sebagian bapak2 yang mengantuk.
"Udah istirahat aja, dek." kata sebagian lain sambil tiduran.
Kenapa sepertinya pada ogah2an mencari? Apa karena terlalu sering hilang? Apa karena nenek2 itu suka susah dikasih tau? Ini ada keluarga kita yang hilang nih!!
"Yuk dek sama saya aja." kata Pak Basuki, salah satu temenku yang lalu kami berdua lalu mencari satu nenek hilang ini. Entah ngga tau mau nyari kemana. Aku hanyalah seorang pemuda unyu kala itu, yang harus keluar maktab, malem2 jalan kaki menuju masjid Nabawi.

Ternyata masjid sudah tutup. Aturan di masjid Nabawi kalo ga salah jam sebelas malem udah tutup. Waktu itu kami berdua hanya menyusuri terasnya saja yang luas, muter2 mengelilingi masjid berharap bertemu teman kami yang hilang. Rupanya di sana malah bertemu orang2 tua yang tersesat. Ada yang ceker juga. Ada kakek2 yang bertanya. Duh, kasihan, jam segini masih belum tau jalan pulang. Sayang, aku ngga bisa bantu. Aku sendiri juga panik. Si kakek ini ingetnya cuma pintu masjid yang ini. "Udah bapak nunggu aja di sini kalo gitu, siapa tau besok pagi ketemu rombongannya." Hiks. Kasihan ya. Malam, dingin di luaran. Mungkin rombongannya juga sedang berputar2 mencari si kakek ini.

Di lain cerita, saat rombongan kami udah cek out, dan bis kami siap mau berangkat menuju Mekkah, eh Mbah Kalimah dan Mbah Mut ngga ada di kamarnya. Wadduh! Barang2nya gimana? Jadwal bis harus tetap berangkat ga bisa ditunda2 lagi. Akhirnya kamar dikosongkan, barang2 mereka dimasukkan ke dalam bis. "Tapi keduanya gimana?"
"Bis harus jalan."
"Gimana kalo mereka balik ke kamar dan semua udah kosong."
Addduh, gimana ini.
Dan bis pun tetap jalan.

Eee di jalan ketemu dua nenek ini abis belanja-belanja. Doweeng.
Yang sini panik dan khawatir semua, yang dicariin malah belanja2.
Langsung aja mereka diangkut ke Madinah, hihihihi.

Sesampainya di Mekkah, lagi2 dapet kabar ada nenek yang hilang.
"Mas mas.. Mbah Kalimah ilang lagi." Weeerrrrr, ilang dimana? Langsung panik lagi, disebar deh mengelilingi masjidil Haram. Bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami dengan jumlah jamaah sekitar dua jutaan orang yang menyemut begitu. Salah salah yang nyari ikutan ilang.
Makanya kalo pergi2 jangan sendirian.
Sampe malem tuh baru Mbah Kalimah pulang dianterin petugas haji yang sbnrnya memang sudah tersebar, dan si Mbah kesel karena merasa ngga ada yang nyariin, hahahaha. Udah muter2, nenek, cuman ga ketemu. Rupanya si Mbah ini ngga pergi sendirian. Beliau berdua masuk kamar mandi melalui pintu depan dan Mbah Kalimah keluar sendirian lewat pintu belakang. Langsung deh nyasar in the middle of nowhere.

Apa sih susahnya mengingat pintu2 itu, pikirku saat itu. Jujur aja aku juga pede banget, merasa masih muda, merasa tau jalan, kemeruh, metua den beden dan ngga mungkin kesasar. Ndilalah kejadian juga di aku!!!
Malam itu kami semua jalan kaki dari Muzdalifah menuju Mina, padat merayap bersama ratusan ribu pejalan kaki lain. Kami bergerombol bersama rombongan kami tentu saja. Dan dalam hitungan detik meleng, tiba2 deg, aku berada dikelilingi orang2 asing yg aku ngga kenal.
Lhoh, lhoh, rombonganku mana? Lhoh mama K mana? Lhoh lhoh. Dag dug dag dug dag dug.
Lemmmmmeeeessssssss.
Tengok kanan, tengok kiri. Deg deg deg. Wajah-wajah yang ngga kukenal. Kucari tanda2 bendera, atau tanda di jilbab dari rombongan kami yg berbeda. Ngga ada. Aku sendirian.
Ya Allah.

Alhamdulillah kok itu kaya punggungnya Mama K?
Langsung aja lari kuhampiri nyelip di antara orang2, eh bener.
Eh itu temen2ku yang lain juga ada!
Alhamdulillah, rupanya aku hanya tertinggal mgkn sepuluh meteran (barangkali) di belakang mereka. Itu aja udah bikin aku ketakutan. -_-" Gimana kalo kesasar di padang pasir. Malah baru2 ini ada berita kakek2 yang kesasar dari Mekkah sampe ke Jeddah! Subhanallah.

Rupanya di kejadian malam itu selain aku yang hilang (menurutku sendiri) beberapa menit aja, ada juga kakek2 lain yang hilang. Yang satu hilang karena nungguin aku. Katanya aku kok masih di belakang, trs beliau tungguin, eh malah beliau yang hilang. Selain itu juga ada kakek2 lain yang hilang dan pulang2 sendiri ke maktab hihihi padahal istrinya udah paaaanik.

Di akhir acara hajian, ketika semua ritual di Mina telah dijalani, kami pun pulang ke Mekkah lagi, naik bis dengan bahagia. Wajah2 sumringah menghiasi kami semua. Bis berjalan perlahan (karena jalanan padat banyak pejalan kaki), eee tiba2 di samping jendela kami melihat Mbah Romlah dan Mbah Mut lagi jalan kaki. Wooooooh!!! Kok masih di bawaaaaaah!!
Rupanya saking senengnya, kami lupa kalo rombongan kami belum utuh.
Lagian itu dua nenek abis dari mana sih?
"Mbaaah Mbaaaah Mbaaaah...!!!" dari jendela kami memanggil2.
Hihihhi langsung deh keduanya diangkut.


mbah romlah, mbah kalimah, mbah mut

Mudah2an cerita ini memberi inspirasi, dan kelak bermanfaat ketika saatnya tiba kita akan berangkat haji. Agar kita dijauhkan dari sifat kemeruh, sok tau, metua den beden, dan kepedean saat di sana. Agar selalu care dan peduli dengan temen2 sesama rombongan. Di sana nanti, keluarga kita ya temen2 satu rombongan itu aja, saling bahu membahu dan melindungi satu dengan yang lain.
Moga2 ada manfaatnya. Barakallahu fiikum.






Catatan kaki:
Kemeruh : sok tau (bahasa jawa)
Metua den beden : sok tau (bahasa madura)

3 komentar:

  1. Hihihi... Mbah2 itu keren.. Nyalinya tinggi. Kok gak kapok2 ya ilang melulu? Kayanya mereka gak ngerasa kalo lagi 'ilang' haha..
    Tapi alhamdulillah ya mereka selalu berhasil (di)ketemu(kan) sama rombongannya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. @nyonya sutisna: hahaha kok keren sih, kan ngrepotin. eh iya alhamdulillah bisa kumpul lagi

      Hapus
  2. "Halo semuanya
    LEONARDO DORA Perusahaan pinjaman kembali ke sini dan saat ini memberikan pinjaman untuk liburan Natal mereka dan segala jenis acara di bulan Desember ini dan pinjaman untuk memulai tahun baru. Butuh pinjaman mendesak untuk melunasi hutang Anda atau memerlukan pinjaman ekuitas rumah untuk memperbaiki bisnis Anda? Sudahkah anda ditolak oleh bank dan lembaga keuangan lainnya? Butuh konsolidasi atau pinjaman hipotek?
    Kami berada di sini untuk memberikan semua kesulitan finansial Anda untuk meminjam uang kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan keuangan, yang memiliki kredit buruk atau memerlukan uang untuk membayar tagihan dan berinvestasi pada bisnis dengan tingkat bunga rendah 2%. Pinjaman kami berkisar antara $ 5.000 sampai $ 50, 000,000.00 dolar juga membayar euro. peso dan mata uang lain pilihan Anda.
    Hubungi kami hari ini melalui email; (leonardodorafinance@gmail.com) untuk mendaftar.

    BalasHapus