Jumat, 06 Juli 2012

Hidup Enak

Seorang sahabat pernah bilang ke aku, betapa hidupku selalu enak.
O ya?
Kriteria sebuah hidup dibilang enak itu seperti apa? Apakah ketika kita bergelimang harta maka itu disebut hidup enak? (Beberapa tetangga ku di kampung sini menyebutnya dgn urip songo, hidup dgn nilai sembilan. Asal sudah berkeluarga lalu punya rumah dan sepeda motor, maka itu udah bisa disebut urip songo).
Apakah ketika kita hidup kekurangan harta, disempitkan rejekinya oleh Alloh Ta'ala, maka berarti hidupnya tidak enak (Cik mulyone uripe koncoku, ga koyo aku cik sorone koyo ngene, betapa mulia hidup temanku, ngga kaya hidupku yang sengsara begini).


Tidak begitu.
Mari kita baca Surat Al Fajr ayat 15 dan 16 (perasaan aku sering bawain ayat ini ya).
Fa-ammaal-insaanu idzaa maabtalaahu rabbuhu fa-akramahu wana''amahu fayaquulu rabbii akraman.(Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: "Tuhanku telah memuliakanku").
Wa-ammaa idzaa maabtalaahu faqadara 'alayhi rizqahu fayaquulu rabbii ahaanan.(Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: "Tuhanku menghinakanku").
Dan di ayat berikutnya, Alloh berfirman, "Kallaa," Sekali-kali tidak (demikian)

Kalo meminjam kata2 seorang teman, orang2 yg keliatan hidupnya enak dan baik2 aja itu sebenernya bukannya ngga pernah punya masalah, seakan ngga pernah kena musibah. Sama lah kaya orang2 lain.
Bukankah ada di Surat Al Baqarah ayat 155,
Walanabluwannakum bisyay-in minalkhawfi waaljuu'i wanaqshin minal-amwaali waal-anfusi watstsamaraat.(Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan).

Atau kita nukilkan di Surat Al Mulk ayat 2,
Alladzii khalaqalmawta waalhayaata liyabluwakum ayyukum ahsanu 'amala, wahuwal'aziizulghafuur.  (Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun).

Hanya saja, mereka tidak menampakkan masalahnya, ketika yg lain gemar berkeluh kesah kesana sini. Mereka tidak menampakkan kesedihannya, ketika yg lain kemudian bersedih berlebihan. Mereka tidak menampakkan musibahnya, ketika sebagian yg lain kerap pamer musibah untuk menarik empati.

Enak dan tidak enak itu ada di hati kita.
Adakah rasa syukur ketika senang?
Betapa banyak orang yg diberi kelimpahan harta, waktu luang dan kesehatan, tapi mereka tidak mensyukurinya? Udah syukur kok, bilang alhamdulillah. Yeee bilang alhamdulillah doang, tapi sholat ditinggalkan, menutup aurat ditinggalkan, dan terus hidup dalam maksiyat.

Adakah rasa sabar ketika susah?
Betapa banyak orang yg diberi musibah, bukannya mendekatkan diri kepada Alloh tapi malah bermaksiyat, kabur dari rumah, jadi anak punk menggelandang di jalan, terlibat sex bebas, minuman keras dan narkoba?
Sabda Rasulullah, "Perkara orang Mukmin itu mengagumkan. Sesungguhnya, semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang Mukmin. Bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya. Bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya." (HR Muslim).

Coba kita perhatikan: "..dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mukmin.."
Hmmpppff. Jangan2, tidak termasuk orang yg beriman apabila ketika senang dia ngga bersyukur dan ketika susah dia ngga bersabar.
Fiiiuuh. *seka keringet*

Sahabatku fillah rohimakumullah.
Kembali ke awal pertanyaan salah satu sahabatku tadi.
Di awal2 pernikahan kami, terus terang gaji pegawai pajak tidak besar. Jadi seperti halnya keluarga2 muda lain, kami pun kerap kekurangan uang dan ehem.. berhutang kesana kesini. Aku harus hutang uang ibuku untuk bikin pagar rumah. Hutang kakakku untuk beli sepeda motor dsb.
Pernah ketika di rumah ada tamu sodara2 yg menginap, dan dompet bener2 kosong, maka dengan menebalkan kulit muka aku pinjem duit ke sahabatku di kantor, "Minjem duitnya dong, dua ratus rebu aja sampe gajian."
"Hah? Buat apa?"
"Buat makan."
Dan sahabatku meminjamkan uangnya dengan senang hati. Semoga Alloh Ta'ala menjaga dia dan keluarganya selalu.

Pernah suatu hari, Mama K, istriku tercinta bilang, "Mas, pengen apel merah (washington)." Aku bilang kepadanya, "Ntar ya kalo gajian." Karena kami memang tidak punya duit lagi di dompet. Tiba2 sebuah mobil taft berhenti di depan rumah. Seorang pak polisi (tetangga beda komplek) bertamu mengajak keluarga kecilnya, sambil membawa apel washington satu tas kresek. Alhamdulillah. Kok bisaaa ya pas begitu.

Pernah ketika uang bener2 menipis, seorang sahabat telepon dari Jakarta kalo dia baru aja transfer uang lima ratus ribu buat aku. "Hah, uang apaan ini?"
"Dulu kan aku pernah jatohin gitarmu sampe patah. Maaf baru sekarang bisa ganti."
"Lho yang jatohin kan bukan kamu?" tanyaku. Peristiwa gitar patah itu udah lewat bertahun2 lalu dan aku pun ngga pernah menyalahkan siapapun.
"Ya tapi aku merasa bersalah sampe sekarang."
Alhamdulillah. Akhirnya uang gitarnya kami pake.. buat makan. Haghaghag.

Ah tentu banyak cerita2 lucu seperti ini di setiap keluarga.
Betul tidak?
Saat2 ketika rejeki kita disempitkan, atau ketika rejeki kita dilapangkan, itu memberi warna buat kehidupan ini. Selalulah berharap keimanan ini tetep ada mencengkeram erat di hati kita, jadi ketika hati ini dibolak-balik, keimanan tetap ada.
Ketika sedih, susah, maka sedih dan susah kita tetap Islami. Betapa banyak orang yg ketimpa musibah kemudian jadi stress dan gila. Atau ada yg kemudian bunuh diri.
Padahal seharusnya kita jadi makin khusyu'. Memperbanyak taubat kepada Alloh, mohon ampunan atas semua kesalahan kita. Mohon dilapangkan atas kesulitan kita dan mohon diberi kesabaran, bentuk seluas2nya rejeki.

Ketika seneng, gembira, maka seneng dan gembiranya yg Islami. Jadi lebih banyak sodaqoh, jadi lebih banyak beramal sholih. Bukannya malah diberi harta banyak tapi dipake buat foya-foya bersenang2, dugem, pesta sabu2 dsb.

Tulisan ini terinspirasi dari status fan page Ustadz Felix Siauw, tentang masa2 sulit beliau dan istri di awal2 pernikahan. Bikin ane jd inget bini, hihihi.
Semoga bermanfaat ya agan2. Mohon maaf kalo ada salah kata.
Ilal liqo'.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar